RASI BINTANG TIDAK HANYA DUA BELAS


Hampir semua penduduk dunia mengenal rasi bintang. Ada yang menganggapnya sebagai atribut ramalan ada pula yang memanfatkannya untuk ilmu perbintangan. Namun kebanyakan yang dikenal hanya rasi bintang yang berjumlah dua belas, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces. Jarang sekali yang tahu hakikat rasi bintang jika dipandang secara obyektif ilmiah.
Menurut Slamet Hambali, perumusan jumlah rasi bintang adalah hasil dari 360 derajat dibagi 30 sehinga menghasilkan 12 rasi bintang. Kedua belas rasi bintang berada di sebuah tempat yang disebut Zodiak. Dalam kajian astronomi, zodiak berfungsi sebagai wilayah tempat dua belas rasi bintang yang tampak dari bumi dan dilintasi oleh matahari setiap tahunnya. Sedangkan bagi para astrolog zodiak dianggap mempunyai pengaruh terhadap segala peristiwa di bumi dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Selain berjumlah dua belas, rasi bintang juga berbentuk berbeda-beda. Pengelompokan dan ‘menganugerahinya’ dengan bentuk hingga sedemikian rupa telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Telah sejak lama pula rasi-rasi bintang di langit digunakan manusia sebagai petunjuk arah dan waktu. Salah satu contohnya adalah Big dipper atau Ursa Major yang digunakan sebagai petunjuk arah utara. Agaknya orang-orang zaman dahulu telah menyadari bahwa rasi bintang muncul pada saat dan wilayah langit yang sama dalam kurun waktu tertentu setiap tahunnya sehingga dapat digunakan untuk keperluan navigasi.
Syaiful Mujab, salah satu pemerhati astronomi asal Jepara mengatakan pada hakekatnya rasi tidak memiliki gambar dan memiliki posisi tetap sehinga dihubungkan bintang-bintang yang tetap menjadi satu rangkaian. Kalaupun yang berkembang adalah adanya gambaran seperti kalajengking, timbangan, dan lain-lain itu hanya hasil imajinasi orang zaman dahulu dalam menamai dan membuat simbol di setiap rasi. Akan tetapi dalam mengambil rasi bukanlah rasi yang ada setiap saat.
Berbeda dengan argumen di atas ada yang menganggap bahwa jumlah rasi tidak hanya dua belas. Ptolomeus dalam Almagest, menuliskan ada 48 buah rasi bintang yang dikenal saat itu. Empat puluh tujuh diantaranya sama dengan yang dikenal saat ini. Selanjutnya International Astronomical Union (IAU) meresmikan 88 buah rasi bintang berikut batas-batas rasinya untuk menghindari adanya sengketa wilayah antara satu rasi dengan yang lainnya. Pemetaan langit seperti ini berguna sebagai ‘alamat’ bintang-bintang, galaksi, dan obyek langit lainnya sehingga memudahkan kerja para astronom dalam penelitian astronomi.
Bagi orang yang menghubungkan rasi bintang dengan ramalan karakter bintang yang berbeda-beda dianggap sama dengan karakter benda yang ada di bumi. Persamaan karakter tersebut dijadikan sebagai dasar awal untuk menentukan karakter-karakter yang lainnya. Berawal dari pandangan tersebut muncullah dispilin ilmu baru bernama astrologi yang berkaitan dengan ramalan. Kajian astrologi menurut Slamet Hambali sama dengan astonomi kuno, yang mana pada zaman dahulu digunakan dalam penentuan nasib.
Perbedaan pandangan tentang rasi bintang sampai sekarang tidak terlalu menjadi permasalahan. Meski faktanya rasi bintang masih menarik perhatian banyak orang. Terlebih bagi orang-orang yang suka mengkaitkan hidupnya dengan dunia ramalan. Namun bagi penulis pandangan yang mengkaitkan rasi bintang dengan dunia ramal bisa membahayakan. Karena bagaimanapun juga ketergantungan dengan ramalan berdampak negatif bagi kehidupan. Apalagi kebenarannya juga masih bersifat spekulatif. Lebih baik rasi bintang dikembangakan untuk perkembangan keilmuan astronomi.

Comentários:

Poskan Komentar

 
*DOKUMENTASI FALAK* © Copyright 2012 | Designed by Zaenury |