LAKSANA BUAH SIMALAKAMA


            IAIN Walisongo adalah satu-satunya PTAIN yang membuka jurusan Astronomi Islam atau yang biasa kita kenal dengan ilmu Falak. Ide ini muncul berawal dari kerjasama antara Kementrian Agama RI Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren dengan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang untuk mahasiswa Strata I. Sehingga selain berstatus mahasiswa fakultas Syariah, mahasiswa Falak juga menjadi komunitas mahasiswa penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI.
Program konsentrasi ilmu falak ini masih dibuka untuk mahasiswa PBSB, artinya prodi belum membuka jalur reguler untuk jurusan ini. Selain itu, seluruh mahasiswa falak juga diasramakan di tempat yang sama, agar memudahkan koordinasi sebagaimana keinginan Kemenag yang menginginkan agar ditempatkan di pondok pesantren. Hal ini yang membuat kita merasa dipandang eksklusif oleh sebagian komunitas di lingkungan yang kita hidupi.
Seyogyanya mahasiswa penerima beasiswa, mereka dibebankan untuk selalu memupuk prestasi, tentu mereka harus unggul dibanding dengan yang lain. Pemahaman semacam inilah yang justru belum banyak dimengerti oleh yang lain. Pembatasan-pembatasan mengikuti kegiatan di luar akademik semata-mata hanya untuk menjaga agar konsentrasi mahasiswa tidak bercabang dengan bidang lain. Akan tetapi, perlu ditegaskan bahwasanya kebijakan tersebut tidak begitu mengikat. Artinya selama yang bersangkutan  mampu mempertanggungjawabkan tuntutan akademiknya, maka hal tersebut tidak menjadi persoalan.
Eksklusifitas bukan merupakan sebuah tindakan kesengajaan, akan tetapi itu lebih pada sudut pandang mereka yang melihat aktifitas kami yang dinilai kurang membaur dengan mahasiswa lain. Mungkin kesan ini muncul dari aktifitas kami yang dipandang jarang mengikuti kegiatan-kegiatan kampus secara intens. Pagi datang kekampus, mengikuti kuliah, perpus, dan pulang ke asrama masing-masing. Itulah rutinitas setiap hari  yang dijalani, selain itu mengingat asrama kita sama dan kita berada dikelas jurusan yang sama pula. Sehingga hal-hal tersebut penulis menilai sebagai penyebab tumbuhnya rumor miring terhadap keberadaan kita.  Akan tetapi, pada realitanya apakah hal seperti ini masih dipersoalkan lagi ketika sebagian dari kita ternyata juga ikut aktif  dari organisasi dikampus ?
Seiring dengan perjalanannya, terkadang kita berfikir kesalahan dan kekisruhan apa yang kita timbulkan, sehingga banyak sekali penilaian negatif, terlebih menjadi sorotan yang begitu berlebihan. Belum lagi pernyataan-pernyataan sinis yang sering terdengar dan diberikan kepada kita. Ironisnya, hal tersebut diperparah bukan hanya dikalangan mahasiswa akan tetapi hampir ada sebagian pembesar akademisi yang melontarkan pernyataan-pernyataan tersebut.
Sangat ironis memang jika salah sebagian di antara kita begitu dibanggakan karena membawa nama harum IAIN Walisongo khususnya Fakultas Syariah akan tetapi di dataran internal lingkungan kita dianggap sebagai orang yang sok dan tidak tahu menahu tentang keadaan di sekitar. Bukankah akan lebih baik kita menilai pada diri kita apa yang telah kita berikan kepada institusi di banding hanya menuntut dan mengkritisi keadaan yang seharusnya tak perlu diperdebatkan.
Bukan maksud untuk menyombongkan diri ataupun berbuat keangkuhan, kita menanggapi sangat wajar apabila banyak komentar dhoif yang tertujukan kepada kita. Karena pada dasarnya manusia itu lebih mudah menilai negatif, menjelekkan dan mencari kesalahan dibanding harus berpikir positif dan berkata “kamu memang baik.” Bukankah pepatah mengatakan, “Jangan berkomentar, sebelum merasakan!”. Artinya, orang boleh berkomentar setelah mereka melihat langsung dan mengalami sendiri.  
Mungkin di beberapa kelas lain banyak dosen yang membicarakan tentang kondisi dan keberadaan kita, akan tetapi hal tersebut tentu didasarkan pada pengalaman yang didapat dosen ketika menjadi pengajar dikelas kita. Itu lebih merupakan fakta dan realita.
Menurut hemat penulis eksistensi mahasiswa penerima beasiswa lebih seperti buah simalakama. Ketika bersikap sebagaimana adanya kita dianggap angkuh, sombong dan menutup diri dengan mahasiswa lain yang sekelasnya. Akan tetapi, ketika kita berusaha untuk merubah pandangan itu dengan membuka diri melakukan langkah preventif, mencoba bergaul, menyapa, berkenalan bahkan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra keberadaan kita malah dianggap orang yang membahayakan dan terkesan diasingkan. Bahkan tak lebih perkataan-perkataan sinis juga masih dilontarkan di hadapan kita, tentu hal tersebut membuat ketidaknyamanan tersendiri bagi kalangan mahasiswa Falak.
Sikap welcome juga tidak ditampakkan dari pihak aktivis organisasi kemahasiswaan yang seharusnya juga bertanggungjawab terhadap seluruh mahasiswa di lingkungan fakultas khususnya. “Jangan menunggu bola” sebuah kalimat yang penulis mencoba untuk mengistilahkan, seharusnya mereka juga bersikap untuk lebih merangkul dan mengayomi seluruh anggota dan mencoba menetralisasi bukan malah ikut berprasangka negatif.  
Dengan keikutsertaan kita dalam organisasi kampus itu merupakan salah satu wujud usaha kita untuk menyetarakan keberadaan kita dengan kelas-kelas mahasiswa lain. Dan mencoba untuk mengaktualisasikan diri membaur selayaknya dengan mahasiswa lain. Sayangnya, upaya seperti ini tak lantas juga membuat image seperti itu hilang. Padahal seperti pada umumnya bayi yang masih lahir, organ kita juga butuh asupan bimbingan dan pengarahan. Hal ini ditenggarai dengan memberikan ruang kami untuk melakukan dialog terkait pengembangan organisasi.
Membuka diri bukan hanya berada pada kubu salah satu pihak akan tetapi lebih kepada kedua-duanya. Artinya semua sama-sama menanggalkan anggapan miring satu sama lain, segala spekulasi harus diganti dengan penglihatan terhadap realita. Pada dasarnya, menurut kami bukan menjadi penilaian terhadap kami terlebih itu sanjungan, maupun pujian. Itu tak lantas membuat hati kita merasa bangga di hadapan yang akan tetapi itu lebih menjadi tamparan dan beban moral kepada yang lain.
Visi dan misi kita sama, menjalani aktifitas akademik untuk memberikan yang terbaik bagi peradaban. Lalu mengapa gusar dan risau dengan kepentingan masing-masing pihak. Biar bagaimanapun selama kita tidak mengusik bahkan melanggar hak orang lain itu merupakan sikap yang normal. Persoalan dia ingin bersosialisasi atau bukan, itu lebih pada pilihan individu dan karakter masing-masing orang. Karena negara ini cukup demokratis untuk melontarkan pendapat dan bersaing secara sehat.

Comentários:

Poskan Komentar

 
*DOKUMENTASI FALAK* © Copyright 2012 | Designed by Zaenury |