Adakah Kehidupan Di Luar Bumi


            Asal- usul kehidupan merupakan sebuah misteri. Tidak ada orang yang dapat memecahkan misteri tersebut dengan metode ilmiah yang tepat. Banyak teori yang bermunculan baik mengenai asal- usul alam semesta, tata surya maupun kehidupan. Tetapi tidak satupun diantara teori tersebut yang berhasil mengungkap misteri tersebut secara jelas.
          Salah satu tempat ternyaman yang diketahui manusia untuk dijadikan tempat tinggal adalah planet kecil dengan diameter 12.756 km dan 75 % permukaannya tertutup oleh air, terletak di tata surya Sabuk Kuiper, di galaksi Bima Sakti yang kita kenal dengan planet Bumi. Bumi merupakan satu- satunya planet di tata surya kita yang dihuni oleh makhluk hidup. Bumi merupakan planet ketiga dari matahari yang mempunyai atmosfer yang tersusun dari gas nitrogen (N2) 72 %, oksigen (O2) 21 %, sisanya 1 % terdiri dari gas argon, karbondioksida, ozon, dan gas- gas lain. Atmosfer ini melindungi makhluk hidup dari sinar matahari dan benda- benda langit yang tertarik ke bumi.
            Kehidupan manusia yang memanfaatkan sumber daya alam berlebihan, menyebabkan Bumi menjadi rusak. Berawal dari rusaknya Bumi, pencemaranpun akan terjadi begitu cepat dan Bumi akan menjadi semakin sesak. Keadaan ini mengakibatkan lapisan pelindung ozon mulai rusak dan pemanasan suhu secara globalpun tidak dapat terelakkan. Lama kelamaan, hal tersebut dapat mengakibatkan pencairan es sehingga bumi tertutup oleh air. Menurut para ilmuwan,  jika global warming ini tidak dicegah dalam waktu dekat, maka 30 % dari makhluk hidup yang ada sekarang akan musnah pada tahun 2050 karena temperatur Bumi terus naik. Isu Pemanasan Global ini membuat skeptisme tersendiri terhadap keberadaan Bumi, jangan-jangan Bumi akan musnah sebelum kiamat. Selain itu dengan semakin habisnya sumber daya alam dan energi  akibat eksplorasi besar-besaran manusia dan konsumsi yang berlebihan,  membuat beberapa orang didunia ini sedang memikirkan potensi kemungkinan untuk hijrah ke planet lain.
            Misi untuk pindah ke planet lain bukanlah sekedar isapan jempol ataupun dongeng tidur belaka. Para peneliti antariksa sudah mulai memainkan perannya dengan meneliti bagaimana hal tersebut menjadi mungkin untuk dilakukan. Bukan hal yang mudah untuk meneliti hal ini karena membutuhkan waktu yang tidak singkat dan biaya yang cukup banyak. Namun para ilmuwan terus mengemban tugas ini untuk meneruskan peradaban manusia.
            Penjelajahan angkasa luar terus dilakukan. Berbagai misteri seputar kehidupan di angkasa luar memang selalu menjadi hal yang menarik untuk dieksplorasi. Oleh sebab itu, satelit dan pesawat angkasa luar terus diorbitkan untuk meneliti angkasa. Pada tahun lalu, satelit pemburu planet asing milik Prancis –COROT- 7 b berhasil merekam sebuah planet baru di luar tata surya kita. Planet tersebut mengorbit pada sebuah bintang berjarak 500 tahun cahaya dan serupa dengan Bumi. Namun, planet yang dikenal dengan COROT- 7 b tersebut hanya berjarak 1,6 juta kilometer dari bintang induknya. Berarti, jarak yang terlalu panas untuk kehidupan lain di luar Bumi, walaupun planet tersebut mempunyai struktur solid yang dapat ditempati organisme hidup. Setidaknya penemuan ini mengasumsikan akan adanya planet yang serupa dan berada dalam orbit yang lebih dingin dan nyaman.  
            Tiga tahun yang lalu tepatnya pertengahan 2007, sebuah planet yang mirip dengan bumi ditemukan di luar tata surya kita. Planet ini memiliki air, juga bisa menyokong kehidupan di sana. Planet ini diberi nama Gliese 581 C. Gliese 581 berada pada jarak yang tidak terlalu dekat ataupun terlalu jauh dari bintangnya sehingga dapat menjaga airnya tidak membeku ataupun menguap. Berbicara tentang penemuan ini, Alison Boyle, kurator bidang Astronomi di Museum Sains London mengatakan, “Dari semua planet yang kami temukan mengelilingi bintang lain, planet ini tampaknya memiliki syarat paling tepat bagi kehidupan”. Namun tetap saja masih belum ditemukan adanya kehidupan biologis di sana seperti halnya bumi. Kalaupun manusia akhirnya berhijrah kesana, hal itu sangat sulit karena jaraknya yang lebih dari 20 tahun cahaya.
            Menyusul penemuan sebelumnya, pada tahun 2009 tim astronom menemukan planet yang dipastikan memiliki air dan atmosfer. Planet itu diberi nama GJ 1214, yang kekuatan cahayanya setara dengan 0,3 % matahari. Sekitar 75 % massa planet merupakan air dan sisanya batuan. Penemuan ini sangat menarik untuk diteliti karena bersama oksigen, air merupakan syarat terpenting maujudnya kehidupan. Namun seperti permasalahan temuan sebelumnya, planet ini hanya berjarak 0,0014 AU, itu berarti jika kita kita mendiami planet itu bisa dipastikan kita akan terpanggang. Kita juga akan kesulitan beradaptasi dengan waktu yang sangat singkat jika mendiami planet tersebut, karena planet samudra itu mengitari bintang induknya dengan selang kurang dari 2 hari.
Para ilmuan nampaknya tidak main- main dalam upaya pencarian kehidupan di luar bumi. Badan Luar Angkasa Eropa mengadakan simulasi penerbangan ke planet Mars sebelum melakukan penerbangan sesungguhnya yang diprediksi pada tahun 2020. Sebanyak enam relawan asal Eropa keluar dengan kondisi baik dari ruang simulasi kapsul ruang angkasa di Rusia setelah menghabiskan lebih dari tiga bulan dalam kapsul tersebut. Penerbangan ke Mars dimaksudkan untuk memastikan struktur planet tersebut agar bisa ditempati oleh makhluk hidup. Misi- misi ke planet merah ini sampai penghujung abad ke- 20 belum menemukan jejak kehidupan di sana, meskipun sederhana. Namun jika ditelisik lebih mendalam, keadaan Mars cukup ideal untuk manusia. Suhu udara dan tekanan udara yang cukup rendah, ditambah dengan komposisi udara yang sebagian besar karbon dioksida namun masih mengandung oksigen, sehingga kemungkinan manusia masih dapat bertahan di lingkungan tersebut. 
Penjelajahan ke Mars sendiri sudah dimulai semenjak tahun 1960-an. Mars memang sudah menjadi incaran para peneliti untuk ditempati manusia apabila pada suatu saat nanti bumi telah benar- benar tidak layak untuk dihuni. Kolonialisasi Mars akan terwujud jika astronot bersikap seperti pemukim pertama di Amerika. Oleh karena itu, NASA berniat mengirim astronot berumur 60-an karena mengirim astronot dalam usia subur bukan ide yang baik. Misi ke luar angkasa dapat mengurangi usia baik karena kurangnya perawatan medis maupun karena paparan radiasi. Astronot tersebut diharapkan jadi pionir kolonialisasi manusia di planet merah.
Sejak tahun 1990, setidaknya ada 300 planet yang berhasil diindetifikasi astronom yang menyerupai bumi. Yang terpenting adalah planet tersebut mengorbit pada bintangnya dalam habitable zone, zona yang memungkinkan makhluk hidup tinggal. Habitable zone diartikan jarak orbit planet dari bintangnya yang memungkinkan keberadaan air di permukaan planet, dengan kata lain orbit planet itu tidak terlalu dekat dengan bintang.
Teknologi bukan menjadi hambatan untuk melakukan penerbangan ke luar angkasa  jika manusia benar- benar berniat untuk hijrah ke planet lain. Dua orang fisikawan asal Universitas Baylor sedang mengembangkan sebuah alat yang membantu mendorong sebuah benda sehingga dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya. Tetapi permasalahannya sekarang adalah para pegiat astronomi belum menemukan planet yang memiliki struktur pendukung kehidupan layaknya bumi yang kita huni ini. Manusia tidak bisa hidup dalam kondisi ekstrim seperti di luar angkasa. Tetapi tidak menutup kemungkinan kita menghijrahkan makhluk hidup lain ke luar angkasa seperti cacing yang hidup di es metana bisa hidup di Titan (Saturnus), beruang air (tardigrade) bisa hidup di ruang hampa (angkasa), cacing raksasa pemakan belerang bisa hidup di Venus, mikroba antartika pemakan besi bisa hidup di jupiter, bakteri yang mampu bertahan dari radiasi bisa hidup di Mars.

Comentários:

Poskan Komentar

 
*DOKUMENTASI FALAK* © Copyright 2012 | Designed by Zaenury |